Racun nampaknya telah merasuk
Tak hanya menusuk
Tapi jua membusuk
Aku berdiri..
Ku telisik hati
Kujelajahi rupa nurani
Jika masih menggerogoti,,
Aku berjanji..
Akan ku hukum mati
Hey! Tiba-tiba mulutku menjerit
Kubuang acid berikut pahit
Sungguh tak ingin lagi ku dipersakit
Tapi setelah itu aku harus kemana?
Aku bertanya..
Berharap pada nyata
Mengapa maya yang kuterima??
Oh Tuhan..Aku bingung mampus
Aku heran bagai terbius
Jadi tolong jangan buatku mengendus
Seperti anjing yang seolah haus
Kembalikan aku seperti pelangi
Yang warnanya kan menghiasi seisi bumi
Dan menjadikan manusia mengagumi
Tuhan..
Sebenarnya aku tak meminta bumi
Atau langit berubah dibawah kaki
Aku hanya minta sepotong hati
Untuk mengganti diri
Untuk lebih memahami
Bingung Mampus
Aku Tahu Tapi Aku Diam
Shubuh itu,,Padahal baru saja kubuka mata
Tiba-tiba kudengar beberapa suara
Lalu aku menghening saja
Akhhh.....Mereka tak percaya apa yang ku kata
Ketiganya sama sekali mencerca
Sungguh para makhluk tak punya muka
Apakah mereka pikir dirinya lebih mulia??
Aku menertawainya
Bukankah orang-orang yang suka mencela,,
Sesungguhnya dirinya jauh lebih hina??
Hahahaha
Amarah merasuk seketika
Ingin rasanya menyanggahnya
Menghantam semua yang mencipta derita hamba
Tapi apalah daya
Aku bukan siapa-siapa
Maupun apa-apa
Tuhanku...Aku dengar
Wahai Tuhanku,,Aku tahu..
Aku terluka menahan airmata
Terjaga hingga insomnia
Serta menduga dan bertanya pula
Memangnya salahku apa??
Oh..Sudah sekian kali aku dengar (Entah berapa kali)
Kemudian sekali lagi aku dengar..
Tuhan..
Aku dengar..
Aku tahu..
Tapi aku diam
“Berbelas kasihlah wahai Tuhan..”
Oh..Berbelas kasihlah..
Wahai Tuhanku..
Sementara Kau ciptakanku di antara para iblis serupa manusia
Lalu Engkau paksa merana-teraniaya
Oh..Berbelas kasihlah..
Wahai Tuhanku..
Saat Kau tempatkanku dalam dunia kejam tak berperasaan
Dengan syetan yang bergentayangan
Oh..Berbelas kasihlah..
Wahai satu-satunya Penguasa jagad raya..
Ketika aku tergeletak bersama hatiku yang berdarah-darah
Dan otakku yang bernanah memuakkan
Oh..Berbelas kasihlah..
Wahai Tuhanku..
Bahkan jika Kau selamatkanku meski sesaat
Sebelum membunuhku..
Serta menyiksaku tanpa rehat
Oh..Berbelas kasihlah..
Wahai Tuhanku..
Kepada makhluk fana yang mengaku hamba
Berbelas kasihlah wahai Tuhan..
Ku mohon..
Tolong,,Berbelas kasihlah pada derita
“Hasrat dalam Doa”
Hai lelakiku,,
Tatapmu itu bak racun tak berpenawar
Berhias seumpama perawan mencari kekasihnya
Padahal keelokanmu tiada duanya bagiku
Tapi kau tak berpuas pula atas sanjunganku
Padamu belahan hatiku,,
Ku sertakan perasaanku bersama kerinduan
Entah hujan atau kemarau berpanjangan,,
Takkan ku singkap hatiku yang hanya menyebut namamu
Kau yang mencuri akalku,,
Sempurna..Tak bercacat sekecil jua
Walau belum ku dapati ragamu
Walau tak terikat batinmu padaku
Tapi jiwa kita kan berpaut merekat-erat
Karena “Sang Pemberi Cinta” yang menjalinkannya
Telah sejak lama..
Bersua kita kelak,,
Berpadu-satu pada waktunya
Sampai akhiratnya
Ku tutup doa ini,,
Hasrat yang bercampur rata..
Pelampiasan rasa..
“Biar Saja..”
Dikala hatiku resah menggeliat
Maka jiwa pun kian gelisah memberat
Kucoba berpaling dari kehidupan
Menentang zaman yang mengobarkan permusuhan
Biar saja..
Adapun saat pertanyaan terkata jua,,
Kemanakah bahtera ini kualamatkan ?
Aku bertimbang rasa melabuhkannya
Ku sematkan cinta
Kugali ruang kerinduan
Sampai ku temukan kebahagiaan
Tiada keputusasaan..Kepedihan
Hanya kebangkitan
“Gila Cermin”
Akh..
Cerminku patah
Duniaku pecah
Bidadari yang molek lagi jelita,,
Bersembunyikah ia?
Kemana rupawannya?
Laksana musnah tak berbekas
Tiba-tiba tanpa sengaja..
Sekejap,, Kulihat bayangan hitam pekat
Pantulan mengerikan..
Bodoh air mukanya,,
Seram ekspresinya
Aku menyumpah mengutukinya
Pergi harapku
Ku usir..Tinggalkanku!
Parah..!!!
Aku gila sudah
Buruk muka cermin ku belah
. . . . . . . . . . . . .
“Malu Tapi Mau”
Bintangku kini mulai benderang pula
Menghangatkan hati yang dulu pernah suram tak bercahaya
Menyembuhkan kehampaan dan luka yang berkulat
Aku tak tahu mengapa atau apa
Karena yang kutahu hanya nestapa
Saat hatiku gersang bercadas curam
Engkau datang tuk menumbuhkan diawal kehidupan
Kucari..
Kutelusuri celah bumi demi kudapati wajahmu
Tapi yang kudapat ekspresi baru diakhir waktu
Kujemu..
Ku mau..
Tapi aku malu dan terlalu takut tuk mencinta..
Tuk merindu lagi
Tuk tersakiti lagi
“Jawaban Gadis mu (Sang Pujangga)”
Sebuah jawaban,,
Teruntuk kepada Sang Pujangga
Yang mencurahkan perkataannya seolah-olah mencinta
Berdusta pada hatinya,, Yang semestinya membenci cinta
Biarkan gadis yang kau buang ini mencoba mengoceh:
Mencintaimu..
Bagaikan berpenyakit parah,,
Nyaris melumpuhkan ku hingga tak bernyawa
Dan hampir lenyap pula kewarasan ku karena cinta yang menggila
Aku merasa kehilangan sesaat lalu tiba-tiba ku dapatkan
Cinta lain..
Yang menyanjungku beribu sayang
Dan memahami ku tanpa perlu berbicara
Dia lah pengganti mu..
Seorang yang takkan mungkin bisa menyakiti ku..Mengkhianatiku.
Atau pula coba hempaskan kasih ku dan sayang ku..
Untukmu..
Yang dulu mengisi segala pikiranku,,
Aku gadis mu..Mencintai mu..hai pujangga ku..
Ku katakan pada mu..
Meski sekejap,, Ku yakin senyumku mampu lemahkanmu
Memutar kembali memori mu saat mengenalku..
Walau hanya dalam imajinasi ku
Aku tahu kau akan menyayangiku..
Aku tahu kau akan mencintai ku..
Tapi nanti..Ketika cinta mu tak berarti lagi
Dan hanya penyesalanmu yang menyelimuti
“Ironi Cinta Sang Pujangga”
Kekasih ku..
Aku pujangga..
Aku manusia
Aku telah salah dalam mencinta
Ku cintai wanita tapi bukan kau,, cinta..
Aku bersusah sungguh mengejarnya
Terjerat dalam cinta buta
Yang di penuhi kepalsuan oleh sosok-sikapnya yang memesona
Ku campakkan kau begitu saja
Tanpa iba
Bercinta dengannya,,
Sesuka nafsu ku yang teramat membara..Menghamba padanya
Aku memujanya..Di perbudaknya..
Tapi aku tak jua menyadarinya
Kuhancurkan asamu yang tersisa sampai sirna dengan sempurna
Lalu ku renggut belas kasihmu penuh paksa
Hingga bibir mu tak sudi lagi berkata-kata
Dan hati mu kian kecewa tiada tara
Kini kau pergi bersamanya..
Sebelum ku sempat sampaikan cinta yang baru saja bermula
Kepadamu..Yang tinggalkanku entah kemana
Aku terluka..
Menderita..
Hati ku hampa
Namun kutahu sesal itu tiada guna
Dan semakin membuatku terpuruk hina..Tak berdaya
Belahan jiwa..
Kaulah sesungguhnya pujangga
Pemberi fatwa,, Sang pengagung cinta
Yang mencintaiku sepenuh cinta..
Aku terlalu terlambat tuk merasakannya..Mengetahuinya
Cinta..
Cintamu yang dulu slalu kau beri dan terjaga tanpa ku pinta
“Sabda Cinta”
Tiada lah akan ku rampas jiwa mu
Takkan mungkin ku sita sedikitpun dari hati mu
Tak sedikitpun..Wahai lelaki Melayu ku yang santun
Perkataan mu ibarat cahaya yang membentang
Wajahmu indah mengalahkan semesta yang kini nestapa
Sedang hatimu aku tak tahu terbuat dari apa
Entah berlian yang amat mahal harganya
Entah tanah hitam yang subur tiada bandingan nya
Atau pula mentari yang slalu menyinari dunia
Kau menumbuhkan
Kau menenangkan
Sungguh sosokmu laksana angin yang menyejukkan
Membuatku terkesima..Terpanah asmara..
Dan mencinta merindu pada Sang Pencipta Cinta
Sebelum ku berikan cinta ku pada manusia,,
Pada sebuah makhluk yang diciptakan-Nya..Oleh-Nya
Cintamu berbeda..
Tanpa syarat maupun tuntutan balas jasa
Jadi kan kulengkapi keberadaan mu
Dan kuciptakan dunia yang hanya diantara kita
Kucintai kau sepenuh jiwa..
Apa adanya..Wahai lelaki ku
Kutawarkan itu tuk selamanya
Lalu kau terima dengan senyuman bahagia
Tak usah lah kau risau atas jawaban dari ku
Dengarkan sabda cintaku ini..
Ku pastikan ruang hatiku penuh terisi tanpa perasaan lain,,
Selain rasa cintamu
Karena cintamu..Menghancurkan keraguan yang sejak lama tertera
Dan kau mampu yakinkan ku hanya dengan satu tarikan nafas
Hingga aku seketika lemas
Tapi batinku masih kuat tuk berucap
Tuk menjelaskan:
Betapa aku sangat mencintai mu
Dan aku begitu rindu
Sebenar-benarnya rindu..
Duhai lelaki Melayu ku yang santun,,
Kucintai kau..Kucintai kau..
Karena kau cintai-Nya
Yang Kurindukan
Matamu ibarat bintang
Terang benderang. .
Menyilaukan. .
Hingga ku tak kuasa memandang
Aku termundur ke belakang
Ketakutan..
Ingin ku berlari kencang
Bersembunyi dan menghilang. .
Namun hatiku tampak gersang
Dihantui Bayang2,,
Sosokmu yang kian kurindukan
Lalu ku pun tertahan,,
Oleh pujian. .
Oleh hinaan. .
Tatapanmu tajam
Aku terdiam. .
Namun kuyakin,, Cintaku tak kan terbuang
Meski kau belum datang
Aku bertahan. .
Kutahu kau sedang berjuang,,
Wahai yang kian kurindukan. .
Aku Benci Caramu Mencinta
Jiwa terpasung bak tertawan,,
Terpenjara..
Namun aku tak berkata
Entah harus bagaimana hatimu dapat ku buka
Aku gelap mata,,
Hatiku tercecer..
Hingga melebihi seberat zarrah pun tak nampak kulihat
Mungkin kau tahu,,
Mungkin pula tidak
Rasa itu..
Terkadang suka
Terkadang duka
Begitu pun,,
Meski luka
Aku tak kan menghiba
Bukan tak sudi
Hanya karena aku tak butuh iba
Atau balas rasa
Lelaki ku..
Aku tak kan memberi
Atau pula meminta dengan paksa
Jika kabut itu masih menyelimutimu
Aku tak kan berusaha menghalaunya lagi
Karena jalan yang kita pilih berbeda
Sungguh..
Keegoisan ini menghancurkan dalamnya rasa
Yang dulu kubangun dengan kokoh
Namun dalam satu tarikan nafas
Kau merubuhkannya hingga yang tersisa hanya puing-puing
Potongan kekecewaan..
Sobekan perih..
Kepingan asa..
Dan secuil penderitaan
Namun ku tahu itu hanya sesaat
Setiap makhluk dapat melawannya dengan waktu
Aku resah..
Aku lelah..
Aku menyerah
Karena ternyata hatimu tak sudi memahaminya,,
Kau tak butuh revolusi
Kau tak perlu itu
Dan parahnya,,
Kau tak menghampiri
Di tempat aku menunggu
Kau tak datang..
Tak sekalipun datang
Sementara aku berlari,,
Detik ini kusampaikan sebuah berita
Bukan karmina ataupun dialog opera
Tapi ini adalah fakta yang nyata
Meski milyaran amoeba mengancam ku
Walau jutaan wuceraria menghadang jantungku
Akan tetap ku katakan,,
Dengan kalimat ini
Dalam bait ini
Aku rindu
Aku beku
Aku benci
"Aku Benci Cara mu Mencinta"
Kebekuanku
Tadi malam aku bergulat beserta peluh
Antara kelogisan akal sehat dan Hati nurani yang dangkal
Aku ingin berlari dari kesesatan ini
Keluar dari kebahagiaan yang mengherankan
Ku yakin sesak nafasku kelak
Tercekat mulut ku hingga ku pun tak sanggup berucap sepatah pun
Tuhan..
Perih itu kembali menyerang
Kau..
Tidakkah kau lihat betapa hancurnya aku?
Bernanah dan berdarah-darah
Membusuk dan terhinakan
Aku bertanya padamu,, Kekasih..
Tidakkah sudi kau kurangi kesakitan ku ini?
Akankah kau deritakan lagi,, Hingga Hepar itu menggelepar?
Kau kuras hati ku lagi,,
Kau tendang gumpalan darah itu hingga membengkak
Aku sembab
Aku nanar
Kosong
Sungguh cercaan itu kurang bagiku,,
Kemunafikanmu terpancar benderang dan menyilaukan
Hingga aku beranjak dari kegalauan
Aku berpaling sesegera mungkin darimu
Menatap horison lain
Dan kulihat pandangan saudaraku tak berkurang sedikit pun
"Hidup selalu dipenuhi pilihan" aku bergumam
Laksana seabad lamanya diriku berhenti agar kau menyusulku
Meski telah ku daki bukit Highland
Namun kau tak jua nampak
Lalu ku putuskan mengejar saudara ku yang tanpa henti memanggilku
Aku berlari meski tahu separuh hatiku masih tertinggal
Wajahku diliputi geram,,
Karena yg ku tahu darimu hanyalah keegoisan
Kau sisakan aku siksaan
Kemudian akan ku katakan padamu bahwa kehampaan itu adalah sebuah keikhlasan
Aku tak kan menahannya,,
Karena kebencian itu akan mengaburkan hatiku
Jadi aku ingin bertanya mengapa,,
Tapi telah kusaksikan sendiri
Aku beku
Revolusimu beserta Riwayatku Kini
Perlahan,, Perih ku terkikis oleh revolusimu
Meski nafasmu terengah-engah
Namun tak terkurangi kekuatanmu
Dulu hatimu suram ibarat malam
Yang membuat sorotan kelam itu nampak tajam
Penderitaanmu pun ingin ku rasakan jua
Walau bernanah
Hingga pun tercabik ataupun membusuk epidermisku
Luka itu..
Jika hanya perih aku tak mampu menahannya
Namun jika berdarah maka akan terkurangi sakitnya
Dirimu bagaikan ombak yang terkadang tenang
Tapi acapkali bergemuruh dengan ganas tanpa pandang asa
Godaan mereka mungkin akan kau hampiri kembali
Tapi kumohon jangan berpaling dari jalan ini
Aku masih berhenti
Jika kau putuskan,,
Maka aku kan segera berlari mengejar saudaraku dan meninggalkanmu
Tapi aku tak mampu
Keyakinan ini tak kan berubah
Meski di lain masa ku harus menyusurinya sendirian saja
Percayalah..
Tak kan tersisih dirimu dari kebaikan
Jika mushaf-mu kau pegang dengan keteguhan
Rabb-mu Maha Mendengar
Luapkan kegundahan dengan sujudmu
Dzikirmu..
Perih Saja
Hancurkan lagi,,
Sekeping harapku yang baru kupungut
Luka berlebam menghiasinya
Dipenuhi memar
Tak berdarah
Namun begitu menyakiti seluruh persendian hingga akal ku kian rusak olehnya
Jutaan sel saraf yang ku punya seakan terenggut tanpa iba
Robek kulitnya pun tidak
Perih saja,,
Bolehkah aku bertanya,,
Dimana dapat kutemui obat penawar dukamu
Hingga sudi kau pandang jalan lain yang kutawarkan
Kapan revolusi itu kau ciptakan?
Saudaraku berteriak memanggilku dari ujung kejauhan
Tak kupedulikan
Hanya karena hatiku yang kau rebut separuh itu belum kau kembalikan
Aku berhenti menyusurinya sendirian dan menunggumu
Tapi kau tak datang
Tak datang..
“T.E.K.A.D”
“Petang Yang Tak Beranjak”






